IAIN RADEN INTAN BANDAR LAMPUNG

IAIN RADEN INTAN BANDAR LAMPUNG
IAIN RADEN INTAN BANDAR LAMPUNG

Kamis, 03 Februari 2011

DINASTI UMAYYAH DAN ABBASIYAH

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang masalah
Sejarah tak ubahnya kacamata masa lalu yang menjadi pijakan dan langkah setiap insan di masa mendatang. Hal ini berlaku pula bagi kita para mahasiswa IAIN Raden Intan Bandar Lampung untuk tidak hanya sekedar paham sains tapi juga paham akan sejarah peradaban islam di masa lalu untuk menganalisa dan mengambil ibrah dari setiap peristiwa yang pernah terjadi. Seperti yang kita ketahui setelah tumbangnya kepemimpinan masa khulafaurrasyidin maka berganti pula sistem pemerintahan Islam pada masa itu menjadi masa daulah, dan dalam makalah ini akan disajikan sedikit tentang masa daulah Umayyah dan Abbasiyah.

B.     Rumusan masalah
1.  Bagaimana kemunculan daulah Umayyah dan Abbasiyah?
2.  Bagaimana sistem pemerintahan daulah Umayyah dan Abbasiyah?
3.  Siapakah yang menjadi khlifah pada masa daulah Umayyah dan Abbasiyah?
4.  Bagaimana perkembangan peradaban daulah Umayyah dan Abbasiyah?
5.  Bagaimana perkembangan Ilmu pengetahuan daulah Umayyah dan abbasiyah?
6.  Bagaimana zaman keemasan daulah Abbasiyah?
4.  Bagaimana runtuhnya daulah Umayyah dan Abbasiyah?

                                                                         







BAB II
PEMBAHASAN
Dinasti Umayyah
A. Berdirinya dinasti umayyah
Pendiri Dinasti Umayyah adalah Muawiyah bin Abi Sufyan. Penisbatan dinasti kepada Umayyah karena Umayyah ialah seorang tokoh terkemuka yang berpengaruh besar di kalangan bangsa Quraisy, nenek moyang Muawiyyah.
Pada masa Khalifah Usman bin Affan, Muawiyyah diangkat menjadi gubernur Syam (Syria), yang berkedudukan di Damaskus. Tabiat pribadinya penyabar dan penyantun, dia juga diplomat yang ulung.
Setelah Khalifah Usman wajat dan digantikan oleh Ali bin Thalib, Muawiyyah tampil sebagai penantang Khalifah Ali. Dalam pertentangan tersebut keduanya terlibat dapam perang Shiffin, yang menimbulkan perpecahan semakin parah di kalangan kaum muslimin pada waktu itu. Ada yang memihak Muawiyyah, ada yang memihak Khalifah Ali, dan ada juga yang memisahkan diri (Khawarij)
Setelah Khalifah Ali wajat, Muawiyyah menjadi Khalifat. Dengan demikian, berakhirlah masa pemerintahan khulafaur rasyiddin dan diganti oleh Dinasti Umayyah yang beribu kota Damaskus.
Daulat Bani Umayyah yang berdiri sejak tahun 660 Masehi sampai dengan tahun 750 Masehi (lebih kurang 90 tahun) yang dipimpin 14 orang Khalifat dan 5 orang diantaranya merupakan Khalifah yang memiliki kelebihan tersendiri.
Dalama kepemimpinannya setiap Khalifah akan bertindak sesuai dnegan watak yang dimilikinya serta tuntutan yang dibutuhkannya pada saat. Ketika terjadinya kekacauan-kekacauan sebelum berdirinya Daulat Bani Umayyah, yaitu kekacauan yang berlangsung pada tahun terakhri dari pemerintahan Khalifah Usman bin Affan dan jugaa pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib, wilayah kekuasaan Islam pada saat itu hanya bersifat de facto dan belum didukung oleh yuridis formal, artinya wilayah Islam tersebut hanya bersifat fakta geografis dan belum adanya keterkaitan hukum atau perundang-undangan dengan pusat pemerintahan Islam juga belum adanya pengakuan kedaulantan secara resmi dari negara-negara yang berbatasan. Dengan demikian wilayah islam tersebut, keadaanya menjadi labil misalnya : Wilayah Islam itu sering diserang oleh negara-negara non Islam yang letaknya berbatasan.
Masa Pemerintahan Bani Umayyah yang terkenal sebagai suatu masa yang perhatiannya tertumpu kepada kebesaran kerajaan, yang berarti semangata dan keinginan untuk memiliki kekuasaan yang Umayyah melakukan langkah sebagai berikut :
1. Memantapkana dan memperhatikan wilayah kekuasaan Islam yang diwarnai oleh Khurafaur Rasyiddin.
2. Memperluas kekuasaan Islam yang diarahkan berbagai wilayah, yaitu :
a. Wilayah Asia Kecil yang masih dikuasai Romawi Timur.
b. Wilayah Afganistan-India dan perbatasan Bangkok.
c. Wilayah Pantai Utara Afrika, meliputi Aljazair dan Maroko
d. Wilayah Eropa Barat yaitu semenanjung Andalusia (Spanyol)

B. Sistem pemerintahan
Muawiyah bin Abu Sufyan adalah khalifah pertama Dinasti Umayyah. Ia memindahkan ibu kota negara dari Madinah ke Damaskus. Selain itu, ia juga mengganti sistem pemerintahan. Menurut Taqiyuddin Ibnu Taimiyah dalam karyanya yang berjudul As-Syiyasah As-Syariyah fi Islah Ar-Raiyah, sistem pemerintahan Islam yang pada masa al-Khulafa ar-Rasyidun yang bersifat demokrasi berubah menjadi monarki here-detis (kerajaan turun-menurun).
Suksesi kepemimpinan secara turun-temurun dimulai ketika Muawiyah mewajibkan seluruh rakyatnya untuk menyatakan setia terhadap anaknya, Yazid.Perintah Muawiyah ini merupakan bentuk pengukuhan terhadap sistem pemerintahan yang turun-temurun yang dibangun Muawiyah. Tidak ada lagi suksesi kepemimpinan berdasarkan asas musyawarah dalam menentukan seorang pemimpin baru. Muawiyah telah mengubah model kekuasaan dengan model kerajaan, kepemimpinan diberikan kepada putra mahkota.
Dalam bukunya yang berjudul Dinasti Bani Umayyah Perkembangan Politik, Gerakan Oposisi, Perkembangan Ilmu Pengetahuan, dan Kejatuhan Dinasti, Mohammad Suhaidi memaparkan, dengan berlakunya sistem (monarki) tersebut, orang-orang yang berada di luar garis keturunan Muawiyah tidak memiliki ruang dan kesempatan yang sama untuk naik sebagai pemimpin pemerintahan umat Islam. Karena, sistem dinasti hanya memberlakukan kekhalifahan dipimpin oleh keturunannya.
Dari segi cara hidup, para khalifah Dinasti Umayyah telah meninggalkan pola dan cara hidup Nabi Muhammad SAW dan al-Khulafa ar-Rasyidun. Hingga masa Ali, pemimpin negara berlaku sebagai seorang biasa tinggal di rumah sederhana, menjadi imam masjid, dan memenuhi kebutuhan hidupnya, seperti kebanyakan orang Muslim lainnya.Namun, pada masa Dinasti Umayyah, yang mengadopsi tradisi sistem kerajaan pra-lslam di Timur Tengah, mereka menjaga jarak dengan masyarakat karena tinggal di istana yang dikelilingi oleh para pengawal. Mereka juga hidup dengan bergelimang kemewahan dan memiliki kekuasaan mutlak.

C. Kekhalifahan Dinasti Umayyah
Setelah kekhalifahan khulafaurrasyidin selesai , khalifah berpindah ke tangan Bani Umayyah yang berlangsung lebih dari 89 tahun. Khalifah pertama adalah Mu'awiyyah. Sedangkan khalifah terakhir adalah Marwan bin Muhammad bin Marwan bin Hakam. Masa kekuasaan mereka sebagai berikut:
1. Mu'awiyah bin Abi Sufyan (tahun 40-64 H/661-680 M)
2.Yazid bin Mu'awiyah (tahun 61-64 H/680-683 M)
3.Mu'awiyah bin Yazid (tahun 64-68 H/683-684 M)
4.Marwan bin Hakam (tahun 65-66 H/684-685 M)
5.'Abdul Malik bin Marwan (tahun 66-68 H/685-705 M)
6.Walid bin 'Abdul Malik (tahun 86-97 H/705-715 M)
7.Sulaiman bin 'Abdul Malik (tahun 97-99 H/715-717 M)
8.'Umar bin 'Abdul 'Aziz (tahun 99-102 H/717-720 M)
9.Yazid bin 'Abdul Malik (tahun 102-106 H/720-724 M)
10.Hisyam bin Abdul Malik (tahun 106-126 H/724-743 M)
11.Walid bin Yazid (tahun 126 H/744 M)
12.Yazid bin Walid (tahun 127 H/744 M)
13.Ibrahim bin Walid (tahun 127 H/744 M)
14.Marwan bin Muhammad (tahun 127-133 H/744-750 M)
Masa kepemimpinan Bani Umayyah berakhir pada tahun 132 H. Ini terjadi setelah Marwan bin Muhammad mengalami kekalahan dalam Perang Zab, melawan pasukan yang dipimpin Abu Abbas as-Saffah dari Bani Abbasiyah. Sejak saat itu kekhilafahan beralih ke Bani Abbasiyah
D. Perkembangan peradaban
Pada masa awal pemerintahan Muawiyah bin Abi Sufyan ada usaha memperluas wilayah kekuasaan ke berbagai daerah, seperti ke India dengan mengutus Muhallab bin Abu         Sufrah, dan usaha perluasan ke Barat ke daerah Byzantium di bawah pimpinan Yazid bin Muawiyah. Selain itu juga diadakan perluasan wilayah ke Afrika Utara. Juga mengerahkan kekuatannya untuk merebut pusat-pusat kekuasaan di luar jazirah Arab, antara              kota Konstantinopel.

E. Perkembangan ilmu pengetahuan
Mekipun para penguasa Bani Umayyah lebih mengutamakan usaha pengembangan wilayah kekuasaan dan kekuatan militer, ternyata terdapat usaha positif yang dilakukan untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Salah satu usaha pengembangan itu adalah dengan memberikan dorongan dan dana yang cukup agar para ilmuan dapat mengembangkan keilmuannya.
Di antara ilmu pengetahuan yang berkembang ketika itu adalah:
1.      Ilmu-ilmu agama, seperti ilmu Al Qur’an, ilmu hadits, ilmu fiqh. Ilmu Al qur’an telah mengalami perkembangan lebih awal dari ilmu hadits. Sebab proses pembukuan hadits berlangsung pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz (99-101 H). sedangkan hadits berkembang pada masa sesudahnya.
2.      Ilmu Sejarah dan Geografi. Salah seorang sejarawan yang telah berhasil menulis berbagai peristiwa sejarah yang terjadi pada masa pemerintahan sebelumnya dan masa Bani Umayyah adalah Ubaid bin Syaryah Al-Jurhumi berhasil menulis buku kitab muluk wa akhbar Al-Mahdi dan Shuhara Abdy berhasil menulis buku Kitab Al-Amsal.
3.      Ilmu kedokteran. Ilmu ini belum mengalami kemajuan yang berarti pada masa Umayyah. Tetapi pada masa Al-walid bin Abdul Malik adanya perkembangan ilmu kedokteran karena Ia telah mendirikan Sekolah Tinggi Kedokteran.
 F. Sebab-sebab runtuhnya dinasti Umayyah
Adapun sebab – sebab utama terjadinya keruntuhan dinasti Bani Umayyah adalah sebagai berikut :
1.      Terjadinya persaingan kekuasaana di dalam anggota keluarga Bani Umayyah
2.      Tidak ada pemimpin politik dan militer yang handal yang mampu mengendalikan kekuasaan dan menjaga keutuhan negara.
3.      Munculnya berbagai gerakan perlawanan yang menentang kekuasaan Bani Umayyah, antara lain gerakan kelompok Syi’ah.
4.      Serangan pasukan Abu Musim al-Khurasani dan pasukan Abul Abbas ke pusat-pusat pemerintahan dan menghancurkannya.

Dinasti Abbasiyah
A.    Berdirinya Dinasti Abbasiyah
Menjelang tumbangnya Daulah Umayah telah terjadi banyak kekacauan dalam berbagai bidang kehidupan bernegara; terjadi kekeliruan-kekeliruan dan kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh para Khalifah dan para pembesar negara lainnya sehingga terjadilah pelanggaran-pelanggaran terhadap ajaran Islam, termasuk salah satunya pengucilan yang dilakukan Bani Umaiyah terhadap kaum mawali yang menyebabkan ketidak puasan dalam diri mereka dan akhirnya terjadi banyak           kerusuhan
Bani Abbas telah mulai melakukan upaya perebutan kekuasaan sejak masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz (717-720 M) berkuasa. Khalifah itu dikenal memberikan toleransi kepada berbagai kegiatan keluarga Syiah. Keturunan Bani Hasyim dan Bani Abbas yang ditindas oleh Daulah Umayah bergerak mencari jalanbebas.
Pada awalnya Muhammad bin Ali, cicit dari Abbas menjalankan kampanye untuk mengembalikan kekuasaan pemerintahan kepada keluarga Bani Hasyim di Parsi pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Selanjutnya pada masa pemerintahan Khalifah Marwan II, pertentangan ini semakin memuncak dan akhirnya pada tahun 750, Abu al-Abbas al-Saffah berhasil meruntuhkan Daulah Umayyah dan kemudian dilantik sebagai khalifah.

B.     Sistem pemerintahan
Khalifah pertama Bani Abbasiyah, Abdul Abbas yang sekaligus dianggap sebagai pendiri Bani Abbas, menyebut dirinya dengan julukan Al-Saffah yang berarti Sang Penumpah Darah. Sedangkan Khalifah Abbasiyah kedua mengambil gelar Al-Mansur dan meletakkan dasar-dasar pemerintahan Abbasiyah. Di bawah Abbasiyah, kekhalifahan berkembang sebagai system politik.
Dinasti ini muncul dengan bantuan orang-orang Persia yang merasa bosan terhadap bani Umayyah di dalam masalah sosial ddan pilitik diskriminas. Khalifah-khalifah Abbasiyah yang memakai gelar ”Imam”, pemimpin masyarakat muslim bertujuan untuk menekankan arti keagamaan kekhalifahan. Abbasiyah mencontoh tradisi Umayyah di dalam mengumumkan lebih dari satu putra mahkota raja.
Al-Mansur dianggap sebagai pendiri kedua dari Dinasti Abbasiyah. Di masa pemerintahannya Baghdad dibagun menjadi ibu kota Dinasti Abbasiyah dan merupakan pusat perdagangan serta kebudayaan. Hingga Baghdad dianggap sebagai kota terpenting di dunia pada saat itu yang kaya akan ilmu pengetahuan dan kesenian. Hingga beberapa dekade kemudian dinasti Abbasiyah mencapai masa kejayaan.
Ada beberapa sistem politik yang dijalankan oleh Daulah Abbasiyah, yaitu:
1.      Para Khalifah tetap dari keturunan Arab murni, sedangkan pejabat lainnya diambil dari kaum mawalli.
2.      Kota Bagdad dijadikan sebagai ibu kota negara, yang menjadi pusat kegiatan politik, ekonomi, sosial dan ataupun kebudayaan serta terbuka untuk siapa saja, termasuk bangsa dan penganut agama lain.
3.      Ilmu pengetahuan dianggap sebagai sesuatu yang mulia, yang penting dan sesuatu yang harus dikembangkan.
4.      Kebebasan berpikir sebagai hak asasi manusia.

C.    Kekhalifahan Bani Abbasiyah
Masa kepemimpinan Bani Abbasiyah berlangsung selama kurang lebih 783 tahun. Khalifah pertamanya adalah Abu Abbas as-Saffah dan yang terakhir adalah al-Mutawakkil ‘Alallah. Masa kepemimpinan Bani Abbasiyah dapat dibagi menjadi dua periode, yaitu periode Kekhilafahan Abbasiyah yang berpusat di Irak dan yang berpusat di Mesir.
Para Khalifah masa Abbasiyah yang berpusat di Irak
I. Dari Bani 'Abbas
1. Abul 'Abbas al-Safaah (tahun 133-137 H/750-754 M)
2. Abu Ja'far al-Mansyur (tahun 137-159 H/754-775 M)
3. Al-Mahdi (tahun 159-169 H/775-785 M)
4. Al-Hadi (tahun 169-170 H/785-786 M)
5. Harun al-Rasyid (tahun 170-194 H/786-809 M)
6. Al-Amiin (tahun 194-198 H/809-813 M)
7. Al-Ma'mun (tahun 198-217 H/813-833 M)
8. Al-Mu'tashim Billah (tahun 218-228 H/833-842 M)
9. Al-Watsiq Billah (tahun 228-232 H/842-847 M)
10. Al-Mutawakil 'Ala al-Allah (tahun 232-247 H/847-861 M)
11. Al-Muntashir Billah (tahun 247-248 H/861-862 M)
12. Al-Musta'in Billah (tahun 248-252 H/862-866 M)
13. Al-Mu'taz Billah (tahun 252-256 H/866-869 M)
14. Al-Muhtadi Billah (tahun 256-257 H/869-870 M)
15. Al-Mu'tamad 'Ala al-Allah (tahun 257-279 H/870-892 M)
16. Al-Mu'tadla Billah (tahun 279-290 H/892-902 M)
17. Al-Muktafi Billah (tahun 290-296 H/902-908 M)
18. Al-Muqtadir Billah (tahun 296-320 H/908-932 M)

II. Dari Bani Buwaih
19. Al-Qahir Billah (tahun 320-323 H/932-934 M)
20. Al-Radli Billah (tahun 323-329 H/934-940 M)
21. Al-Muttaqi Lillah (tahun 329-333 H/940-944 M)
22. Al-Musaktafi al-Allah (tahun 333-335 H/944-946 M)
23. Al-Muthi' Lillah (tahun 335-364 H/946-974 M)
24. Al-Thai'i Lillah (tahun 364-381 H/974-991 M)
25. Al-Qadir Billah (tahun 381-423 H/991-1031 M)
26. Al-Qa'im Bi Amrillah (tahun 423-468 H/1031-1075 M)

III. dari Bani Saljuk
27.  Al Mu'tadi Biamrillah (tahun 468-487 H/1075-1094 M)
28.  Al Mustadhhir Billah (tahun 487-512 H/1094-1118 M)
29.  Al Mustarsyid Billah (tahun 512-530 H/1118-1135 M)
30.  Al-Rasyid Billah (tahun 530-531 H/1135-1136 M)
31.  Al Muqtafi Liamrillah (tahun 531-555 H/1136-1160)
32.  Al Mustanjid Billah (tahun 555-566 H/1160-1170 M)
33.  Al Mustadhi'u Biamrillah (tahun 566-576 H/1170-1180 M)
34.  An Naashir Liddiinillah (tahun 576-622 H/1180-1225 M)
35.  Adh Dhahir Biamrillah (tahun 622-623 H/1225-1226 M)
36.  Al Mustanshir Billah (tahun 623-640 H/1226-1242 M)
37.  Al Mu'tashim Billah ( tahun 640-656 H/1242-1258 M)

Memasuki tahun 659 H, Dunia Islam belum juga memiliki seorang khalifah. Akhirnya, didirikanlah kekhilafahan di Mesir. Al-Muntanshir-lah yang diangkat sebagai khalifah pertama Bani Abbasiyah di Mesir. Dia adalah seorang keturunan Bani Abbasiyah, yang berhasil lolos dari pembantaian tentara Tartar, dan berhasil menyelamatkan diri ke Mesir. Sejak saat itu, pusat kekuasaan Islam berpindah ke Kairo. Pembaiatan al-Muntanshir sebagai khalifah berlangsung pada tanggal 1 Rajab 659 H.
Para Khalifah masa Abbasiyah yang berpusat di Mesir
1.  Al Mustanshir billah II (taun 660-661 H/1261-1262 M)
2.  Al Haakim Biamrillah I ( tahun 661-701 H/1262-1302 M)
3.  Al Mustakfi Billah I (tahun 701-732 H/1302-1334 M)
4.  Al Watsiq Billah I (tahun 732-742 H/1334-1354 M)
5.  Al Haakim Biamrillah II (tahun 742-753 H/1343-1354 M)
6.  al Mu'tadlid Billah I (tahun 753-763 H/1354-1364 M)
7.  Al Mutawakkil 'Alallah I (tahun 763-785 H/1363-1386 M)
8.  Al Watsir Billah II (tahun 785-788 H/1386-1389 M)
9.  Al Mu'tashim (tahun 788-791 H/1389-1392 M)
10.  Al Mutawakkil 'Alallah II (tahun 791-808 H/1392-14-9 M)
11.  Al Musta'in Billah (tahun 808-815 H/ 1409-1426 M)
12.  Al Mu'tadlid Billah II (tahun 815-845 H/1416-1446 M)
13.  Al Mustakfi Billah II (tahun 845-854 H/1446-1455 M)
14.  Al Qa'im Biamrillah (tahun 754-859 H/1455-1460 M)
15.  Al Mustanjid Billah (tahun 859-884 H/1460-1485 M)
16.  Al Mutawakkil 'Alallah (tahun 884-893 H/1485-1494 M)
17.  Al Mutamasik Billah (tahun 893-914 H/1494-1515 M)
18.  Al Mutawakkil 'Alallah OV (tahun 914-918 H/1515-1517 M)

D.    Perkembangan peradaban
Dinasti Abbasiyah di samping bercorak Arab murni, juga terpengaruh dengan corak pemikiran dan peradaban. Hal ini diawali Pada masa pemerintahan Khalifah Al-Mahdi (158 – 169 H / 775 – 785 M), dinasti Abbasiyah memperluas kekuasaan dan pengaruh Islam ke wilayah Timur Asia Tengah, dari perbatasan India hingga ke China. Saat itu umat Islam berhasil memasuki selat Bosporus, sehingga membuat Ratu Irene menyerah dan berjanji membayar upeti. Pada masa dinasti ini pula wilayah kekuasaan Islam sangat luas yang meliputi wilayah yang telah dikuasai Bani Umayyah, antara lain Hijjaz, Yaman Utara dan Selatan, Oman, Kuwait, Iran (Persia), Irak, Yordania, Palestina, Libanon, Mesir, Tunisia, Al-Jazair, Maroko, Spanyol, Afghanistan, dan Pakistan. Juga mengalami perluasan ke daerah Turki, wilayah-wilayah Armenia dan daerah sekitar Laut Kaspia, yang sekarang termasuk wilayah Rusia. Wilayah bagian Barat India dan Asia Tengah, serta wilayah perbatasan China sebelah Barat.

E.     Perkembangan ilmu pengetahuan
Adapun kemajuan dan perkembangan di bidang keilmuan adalah sebagai berikut :
1.      Lembaga dan kegiatan ilmu pengetahuan
Sebelum dinasti Bani Abbasiyah, pusat kegiatan dunia Islam selalu bermuara pada masjid. Masjid dijadikan center of education. Pada dinasti Bani Abbasiyah inilah mulai adanya pengembangan keilmuan dan teknologi diarahkan ke dalam ma’had. Lembaga ini kita kenal ada dua tingkatan, yaitu :
a.       Maktab/kuttab dan masjid yaitu lembaga pendidikan terendah, tempat anak-anak remaja belajar dasar-dasar bacaan, menghitung dan menulis serta anak remaja belajar dasar-dasar ilmu agama.
b.      Tingkat pendalaman, para pelajar yang ingin memperdalam Islam pergi ke luar daerah atau ke masjid-masjid, bahkan ke rumah gurunya. Pada tahap berikutnya, mulailah dibuka madrasah-madrasah yang dipelopori Nizhamul Muluk yang memerintah pada tahun 456-485 H. Lembaga inilah yang kemudian berkembang pada masa dinasti Bani Abbasiyah.
2.      Corak keilmuan
Gerakan keilmuan pada dinasti Abbasiyah lebih bersifat spesifik, kajian keilmuan yang kemanfaatannya bersifat keduniaan bertumpu pada ilmu kedokteran, di samping kajian yang bersifat pada al-Qur’an dan al-Hadits, sedang astronomi, mantiq dan sastra baru dikembangkan dengan penerjemahan dari Yunani.
3.      Ilmu pengetahuan sains dan teknologi
a.       Astronomi, ilmu ini melalui karya India Sindhind, kemudian diterjemahkan Muhammad ibn Ibrahim al-Farazi (77 M). Di samping itu, masih ada ilmuwan Islam lainnya, seperti Ali ibn Isa al-Asturlabi, al-Farghani, al-Battani, Umar al-Khayyam dan al-Tusi.
b.      Kedokteran, dokter pertama yang terkenal adalah Ali ibn Rabban al-Tabari. Tokoh lainnya al-Razi, al-Farabi dan Ibnu Sina.
c.       Kimia, tokohnya adalah Jabir ibn Hayyan (721-815 M). Tokoh lainnya al-Razi, al-Tuqrai yang hidup di abad ke-12 M.
d.      Sejarah dan geografi, tokohnya Ahmad ibn al-Yakubi, Abu Ja’far Muhammad bin Ja’far bin Jarir al-Tabari. Kemudian ahli ilmu bumi yang terkenal adalah Ibnu Khurdazabah (820-913 M).

F.     Zaman keemasan
Dinamakan khalifah Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan al-Abbas, paman Nabi Muhammad saw. Dinasti Abbasiyah didirikan oleh Abdullah al-Suffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abbas. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, dari tahun 132-565 H (750-1258 M). Selama dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial dan budaya. Berdasarkan pola pemerintahan, para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Bani Abbasiyah menjadi tiga periode, yaitu:
1.      Periode pertama (132 H/750 M – 232 H/847 M). Kekuasaan pada periode ini berada di tangan para khalifah.
2.      Periode kedua (232 H/847 M – 590 H/1194 M). Pada periode ini kekuasaan hilang dari tangan para khalifah berpindah kepada kaum Turki (232-234 H), golongan Bani Buwaim (334-447 H), dan golongan Bani Saljuq (447-590 H).
3.      Periode ketiga (590 H/1194 M – 656 H/1258 M), pada periode ini kekuasaan berada kembali di tangan para khalifah, tetapi hanya di Baghdad dan kawasan-kawasan sekitarnya.
Pada periode pertama, pemerintahan Bani Abbasiyah mencapai masa keemasannya. Secara politis, para khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Di sisi lain kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Namun, setelah periode ini berakhir, pemerintahan Bani Abbasiyah mulai menurun dalam bidang politik meskipun filsafat dan ilmu pengetahuan berkembang.
Kalau dasar-dasar pemerintahan Bani Abbasiyah diletakkan dan dibangun oleh Abu al-Abbas dan Abu Ja’far al-Mansur, maka puncak keemasannya dari dinasti ini berada pada tujuh khalifah sesudahnya, yaitu:
1. Al-Mahdi (775-785 M)
2. Al-Hadi (775-786 M)
3. Harun al-Rasyid (785-809 M)
4. Al-Ma’mun (813-833 M)
5. Al-Mu’tashim (833-842 M)
6. Al-Wasiq (842-847 M)
7. Al-Mutawakkil (847-861 M)
Pada masa al-Mahdi, perekonomian mulai meningkat dengan peningkatan di sektor pertanian melalui irigasi dan peningkatan hasil pertambangan seperti perak, emas, tembaga dan besi.
Popularitas Daulah Bani Abbasiyah mencapai puncaknya pada zaman khalifah Harun al-Rasyid dan putranya al-Makmun. Ketika mendirikan sebuah akademi pertama di lengkapi pula dengan lembaga untuk penerjemahan.
G.    Sebab-sebab runtuhnya Dinasti Abbasiyah
1.      Faktor-faktor intern:
  1. Adanya persaingan tidak sehat diantara beberapa bangsa yang terhimpun dalam Daulah Abbasiyah terutama Arab, Persia, dan Turki
  2. Terjadinya perselisihan pendapat diantara kelompok pemikir agama yang ada berkembang menjadi pertumpahan darah
  3. Munculnya Dinasti-Dinasti kecil sebagai akibat perpecahan sosial yang berkepanjangan.
  4. Terjadinya kemerosotan tingkat perekonomian sebagai akibat dari bentrokan politik
2.      Faktor-faktor eksternal
a.       Berlangsungnya perang Salib yang berkepanjangan dalam beberapa gelombang.
b.      Serangan pasukan Mongol dan Tartar yang dipimpin oleh Hulagu Kahn berhasil menjarah semua pusat-pusat kekuasaan maupun pusat ilmu pengetahuan yaitu perpustakaan di Bagdad.









BAB III
PENUTUP
Berdasarkan pemaparan di atas dapat dipahami bahwa kekuasaan Dinasti Umayyah dan Abbasiyah merupakan masa gemilang kemajuan dunia Islam dalam aspek perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban. Perkembangan tersebut pada dasarnya merupakan andil dari pengaruh peradaban Yunani yang sempat masuk ke dunia Islam. Sehingga selanjutnya, beberapa tokoh dalam literatur sejarah menghiasai perkembangan pemikiran hingga di era modern. Bahkan, pada masa kejayaan tersebut orang-orang Barat menjadikan wilayah timur sebagai pusat perabadan untuk menggali ilmu pengetahuan.
Pada masa inilah Islam meraih kejayaanya. Banyak kontribusi keilmuan yang disumbangkan. Karya dan tokoh-tokohnya telah menjadi inspirasi dalam pengembangan keilmuan, oleh karena itu masa ini dikatakan sebagai masa keemasan Islam walau akhirnya peradaban Islam mengalami kemunduran dan kehancuran di bidang keilmuan bersamaan dengan berakhirnya pemerintahan Umayyah dan Abbasiyah.
Sebuah sistem yang teratur akan menghasilkan pencapaian tujuan yang maksimal, seperti kisah pendirian dinasti Abbasiyah. Mereka bisa mendirikan dinasti di dalam sebuah negara yang dikuasai suatu dinasti yang menomorduakan mereka. Selain itu dari sejarah kekuasaan dinasti Abbasiyah ini kita juga bisa mengambil manfaat yang bisa kita rasakan sampai saat ini, yaitu perkembangan ilmu pengetahuan. Seharusnya kita yang hidup pada zaman modern bisa meneruskan perjuangan para ilmuwan zaman daulah Abbasiyah dahulu.















 
             






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar